Hari itu tanggal 20 July 2011 adalah hari ulang tahunku yang ke 17. Dari sejak jam 12 malam aku menunggu ucapan selamat dari seseorang yang kusuka. Tapi setelah pagi akhirnya muncul, tak ada satupun ucapan darinya. Yah, mungkin ia lupa. Hanya saja ada yang membuat hari ulang tahunku special yaitu kecupan mamaku di tengah malam. Sungguh hangat pelukan seorang ibu.
Ia adalah Imron. Seorang yang sedang dekat denganku saat itu. Cowo cuek, dingin, dan sulit di tebak karekternya olehku. Karena setiap hari selalu saja berbeda sifatnya. Aku selalu dibuat bingung olehnya. Selalu saja menunggu kapan dia berbuat baik atau kapan dia mengajakku bertemu.
Tiwi, salah seorang temanku yang mengenalkan aku padanya pernah berkata, “Dia baik bil, hanya saja dia sedikit cuek. Tapi dia bisa jadi sangat perhatian jika ia sudah merasa cocok oleh seseorang.” Ah, jika menginngat kata-kata itu, aku pesimis. Mungkinkah Imron tidak merasa cocok denganku? Tapi, sifatnya selalu berubah, kadang baik, kadang juga cuek. Pernah sehari aku sama sekali tidak mengabarinya, eh, malah aku yang di bilang cuek olehnya. Setelahnya, dia kembali cuek. Dan aku hanya bisa menunggu.
Benar-benar kesal! Di hari ulang tahunku saja dia tidak memberiku selamat. Pikirku saat itu negative kepadanya. Dalam hatiku berkata,”Sudahlah, mungkin memang Imron tak merasa cocok denganku dan memang tak suka denganku. Menyerah sajalah.”
Aku lewati hari ulang tahunku dengan teman-temanku tanpa harus memikirkannya. Tapi, setelah jam sudah mau menunjukan akhir dari hari itu, tepatnya pukul 22.27 dan aku sudah ingin tidur juga melupakan Imron, tiba-tiba dia mengirim pesan ke handphoneku mengucapkan selamat kepadaku dan berkata,”Semoga gak telat. Selamat ulang tahun Nabila Sofyan Putri, wish you all the best. Sengaja biar ngucapin terakhir kan gampang diingat.”
Perasaanku saat itu campur-aduk. Senang, kesal, marah. Ah, pokoknya Imron benar-benar membuatku geram dan cemas. Tapi jujur, aku sangat senang akhirnya dia tidak lupa ulang tahunku.
Hari berganti hari aku lewati dengannya. Saling berbalas pesan melalui Blackberrry Messenger. Sampai akhirnya ia mengajakku bertemu.
Tepatnya tanggal 27 July 2011, siang setelah aku pulang sekolah, ia menjumputku ke rumah. Setelah seharian aku bersamanya, menonton, makan bersama, dan mengobrol banyak sambil bercanda, tiba-tiba dia berkata,”Aku suka sama kamu, mau gak jadi pacar aku?” Aku tidak pernah menyangka dia akhirnya menyatakan cinta kepadaku. Senang sekali rasanya. Akhirnya aku jawab,”Iya.” Dan hari itu, 27 July 2011 aku resmi berpacaran dengan Imron.
Hari-hari aku lalui bersamanya. Betul kata Tiwi, dia sangat perhatian kepadaku. Terkadang sedikit kita berbeda pendapat dan itu membuat kita bertengkar. Tapi, itu bisa dihadapi karena sifat Imron yang ternyata dewasa dan bisa membimbingku.
Satu bulan aku berpacaran denganya. Sedih dan senang ku rasakan. Sampai akhirnya, aku benar-benar merasa sedih saat menerima kenyataan bahwa ia harus pergi jauh meninggalkanku ke Kediri untuk kuliah di sana, di Universitas Brawijaya.
Pacaran jarak jauhpun kami jalani. Dari masalah kecil sampai yang besarpun pernah kita lewati dengan tawa dan tangis. Masalah kesibukan sampai masalah orang ketiga. Semuanya membuat kita merasa dekat. Hanya rindu yang mungkin sedikit sulit untuk di tahan. Benar-benar berat menahan rindu ternyata.
Sebulan disana, akhirnya ia kembali ke Bogor. Tapi sayang, hanya 5 hari. Setelah itu, ia berangkat ke sana lagi dan entah kapan ia kembali. Sampai sekarang, aku hanya bisa menunggunya pulang, sambil belajar untuk Ujian Nasional dan SNMPTN. Menyusulnya kesana nanti. Dan tetap menunggunya mengetuk pintu rumahku dan berkata,”Aku masih untukmu, sayang…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar