Jumat, 18 November 2011

Curhat Habis Sakit

Assalamualaikum!! Apa kabar? Baik-baik saja kan? Oke ini terlalu kaku dan gue tau ini bukan pelajaran bikin surat.

Udah lama gue ngga posting ya? Eh, padahal terakhir ngepost itu 2 hari yang lalu dan itu postingan tugas bikin cerpen dari guru bahasa indonesia gue. Haha sedikit ngga penting emang.. Eh tapi itu emang penting! STOP ah gue jadi ngga ngerti gini? -_-

Emm, mau ngomong apa yaaa? Oia, mau tau ngga kenapa gue ngga ngepost kemaren-kemaren? Mau nggaaaa? Iya, jadi gue tuh sakit usus dan hampir mau mati rasanya (padahal gue ngga tau rasanya mau mati gimana) sampe gue oprasi loh coy! Seumur hidup, baru pertama kali gue masuk yang namanya ruang oprasi dan du oprasi terus di jait-jait gitu kulitnya. Ih ngeri deh! Kan gue cuma bius lokal. Jadi gue bisa melihat prosesnya lewat pantulan dari lampu oprasi yang mati satu. Subhanallah deh, Allah itu bener-bener Maha Segalanya. Bisa bikin organ-organ manusia yang segitu rumitnya. Usus kecil, tapi bisa memuat makanan apa aja yang kita makan! *terkejut*

4 hari gue di rumah sakit, dan berhasil menurunkan berat badan gue 3 kg loooh! Haha betapa senangnyaaa :D Tapi yang gue keselin dirumah sakit itu kenapa semuanya yang ngurus gue itu suster? Bukan broder-broder (suster cowo) yang ganteng-ganteng kaya di tipi-tipi? Kenapaaaaa? *jongkok* dan gue 4 hari cuma makan bubur sumsum sama telor rebus dong. Nah, yang gue pikirin apa hubungannya bubur sumsum sama telor rebus? Kan ngga cocok banget kalo di jadiin sepasang makanan. Aneh yah, makanan rumah sakit itu. Eh, kenapa gue jadi curhat? -,-

Dan kalo di pikir-pikir jadi dokter itu enak. Ya emak enak! Dokter di rumah sakit tempat gue di rawat, 1 pasien 100ribu. Bayangin aja kalo 10 pasien aja tiap hari. Udah 1 juta. Padahal, prakteknya ngga sampe 1 jam, dateng ngaret parah, di priksa cuma modal stetoskop nyuknyuknyuk aja udah gitu, kasih resep, beres. Dan lagi kalo udah beres dia bilang, "Kalo masih ada keluhan silahkan datang lagi." Gue sih pengen jawabnya, "Mbah mu, mending lo ganteng."

Gue pengen deh jadi dokter, tapi biaya kuliahnya itu loh, kayanya jual hp gue aja ga cukup. *yaiyalah* wajar sih dokter di bayar mahal soalnya yah emang ilmunya juga mahal.

Udah ah sekian, habis bingung mau ngomong apa. Speachless (bener apa ngga nulisnya?) abis nih yang baca blog gue pada ganteng dan cantik. Haha *ngrayu biar blog di visit*

Asal kalian tau, gue ngepost ini sambil nungging, perut masih sakit meeen! SEKIAN!

Rabu, 16 November 2011

Cerpenku : Menunggu Imron

Hari itu tanggal 20 July 2011 adalah hari ulang tahunku yang ke 17. Dari sejak jam 12 malam aku menunggu ucapan selamat dari seseorang yang kusuka. Tapi setelah pagi akhirnya muncul, tak ada satupun ucapan darinya. Yah, mungkin ia lupa. Hanya saja ada yang membuat hari ulang tahunku special yaitu kecupan mamaku di tengah malam. Sungguh hangat pelukan seorang ibu.

Ia adalah Imron. Seorang yang sedang dekat denganku saat itu. Cowo cuek, dingin, dan sulit di tebak karekternya olehku. Karena setiap hari selalu saja berbeda sifatnya. Aku selalu dibuat bingung olehnya. Selalu saja menunggu kapan dia berbuat baik atau kapan dia mengajakku bertemu.

Tiwi, salah seorang temanku yang mengenalkan aku padanya pernah berkata, “Dia baik bil, hanya saja dia sedikit cuek. Tapi dia bisa jadi sangat perhatian jika ia sudah merasa cocok oleh seseorang.” Ah, jika menginngat kata-kata itu, aku pesimis. Mungkinkah Imron tidak merasa cocok denganku? Tapi, sifatnya selalu berubah, kadang baik, kadang juga cuek. Pernah sehari aku sama sekali tidak mengabarinya, eh, malah aku yang di bilang cuek olehnya. Setelahnya, dia kembali cuek. Dan aku hanya bisa menunggu.

Benar-benar kesal! Di hari ulang tahunku saja dia tidak memberiku selamat. Pikirku saat itu negative kepadanya. Dalam hatiku berkata,”Sudahlah, mungkin memang Imron tak merasa cocok denganku dan memang tak suka denganku. Menyerah sajalah.”

Aku lewati hari ulang tahunku dengan teman-temanku tanpa harus memikirkannya. Tapi, setelah jam sudah mau menunjukan akhir dari hari itu, tepatnya pukul 22.27 dan aku sudah ingin tidur juga melupakan Imron, tiba-tiba dia mengirim pesan ke handphoneku mengucapkan selamat kepadaku dan berkata,”Semoga gak telat. Selamat ulang tahun Nabila Sofyan Putri, wish you all the best. Sengaja biar ngucapin terakhir kan gampang diingat.”

Perasaanku saat itu campur-aduk. Senang, kesal, marah. Ah, pokoknya Imron benar-benar membuatku geram dan cemas. Tapi jujur, aku sangat senang akhirnya dia tidak lupa ulang tahunku.

Hari berganti hari aku lewati dengannya. Saling berbalas pesan melalui Blackberrry Messenger. Sampai akhirnya ia mengajakku bertemu.

Tepatnya tanggal 27 July 2011, siang setelah aku pulang sekolah, ia menjumputku ke rumah. Setelah seharian aku bersamanya, menonton, makan bersama, dan mengobrol banyak sambil bercanda, tiba-tiba dia berkata,”Aku suka sama kamu, mau gak jadi pacar aku?” Aku tidak pernah menyangka dia akhirnya menyatakan cinta kepadaku. Senang sekali rasanya. Akhirnya aku jawab,”Iya.” Dan hari itu, 27 July 2011 aku resmi berpacaran dengan Imron.

Hari-hari aku lalui bersamanya. Betul kata Tiwi, dia sangat perhatian kepadaku. Terkadang sedikit kita berbeda pendapat dan itu membuat kita bertengkar. Tapi, itu bisa dihadapi karena sifat Imron yang ternyata dewasa dan bisa membimbingku.
Satu bulan aku berpacaran denganya. Sedih dan senang ku rasakan. Sampai akhirnya, aku benar-benar merasa sedih saat menerima kenyataan bahwa ia harus pergi jauh meninggalkanku ke Kediri untuk kuliah di sana, di Universitas Brawijaya.

Pacaran jarak jauhpun kami jalani. Dari masalah kecil sampai yang besarpun pernah kita lewati dengan tawa dan tangis. Masalah kesibukan sampai masalah orang ketiga. Semuanya membuat kita merasa dekat. Hanya rindu yang mungkin sedikit sulit untuk di tahan. Benar-benar berat menahan rindu ternyata.
Sebulan disana, akhirnya ia kembali ke Bogor. Tapi sayang, hanya 5 hari. Setelah itu, ia berangkat ke sana lagi dan entah kapan ia kembali. Sampai sekarang, aku hanya bisa menunggunya pulang, sambil belajar untuk Ujian Nasional dan SNMPTN. Menyusulnya kesana nanti. Dan tetap menunggunya mengetuk pintu rumahku dan berkata,”Aku masih untukmu, sayang…”